Abu Hasan

مجموعة الاسلامية على نهج سلف الأمة

Minggu, 29 Maret 2020

MEMPER'TUHAN'KAN MANUSIA

"MANUSIA MENUHANKAN MANUSIA"
*BENTUK² SIKAP MENUHANKAN MANUSIA:*
Lebih mengutamakan perkataan, pendapat dan ucapan seseorang daripada ucapan Allah dan NabiNya. Lebih mengutamakan ucapan "tokoh"nya dalam beramal dan beribadah dari pada ucapan Allah dan rosulNya.
Jika ucapan, perkataan dan pendapat seseorang tersebut bertentangan dengan AlQuran dan AsSunnah, mereka tetap lebih mendahulukan perkataan seseorang tersebut daripada AlQuran dan Assunnah.
Menjadikan seseorang ditaati secara mutlak tanpa boleh ada reserve dan penentangan. Meskipun perintahnya bertentangan dengan syariat.
Meyakini bahwa manusia memiliki hak rububiyah maupun hak pensyariatan. Sampai-sampai mereka menghalalkan sesuatu yang Alloh Ta’ala haramkan, dan mengharamkan sesuatu yang Alloh Ta’ala halalkan demi mengikuti pendapat seseorang.
Menganggap seseorang mempunyai kemampuann reinkarnasi.
Sebagaimana keyakinan Nasrani bahwa Isa itu putra tuhan.
Mengagungkan manusia secara ghuluw. Begitu datang "tokoh"nya langsung membungkuk- bungkuk, bahkan sampai sujud tersungkur, dan cium kakinya. Memajang fotonya di rumahnya kalau sholat sujudnya di bawah foto tokohnya. Jika "tuhan" tokohnya sudah meninggal dia selalu ke kuburannya untuk ngalap berkah. Berdoa meminta hajat kepada mayatnya, minta pertolongan kepada arwahmya.
Taklid buta dan sangat fanatik terhadap seseorang. Meyakini "seseorang" yang dia kagumi, yang dia ikuti tersebut tak punya kekeliruan. Seseorang yang dia fanatiki tersebut dianggap bisa menjamin keselamatan dirinya di akhirat. Dia anggap punya "manfaat" dan "mudharrat".
Apabila orang-orang alim mereka, ulama'², rahib-rahib mereka, pemimpin² mereka, tokoh² mereka menghalalkan sesuatu untuk mereka, merekapun menganggapnya halal, SEKALIPUN bertentangan dengan syari'at. Seperti ucapan; tidak apa² sholatmu jarang² yang penting kamu berada di 'kelompok ini''. Anda tak perlu khawatir nanti di alam kubur yang penting jadi pengikut "syaikh" ini.
Menjadikan suatu hukum halal haram berdasarkan pada: apa yang dibilang "tokoh"nya. Jika mereka (orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka) mengharamkan sesuatu untuk mereka, merekapun menganggap haram.
*DALIL
Allah Ta’ala berfirman :
اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لا إِلَهَ إِلا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ
”Mereka menjadikan pendeta-pendeta dan ahli-ahli agama mereka sebagai tuhan-tuhan selain dari Allah, dan juga (mereka mempertuhankan) al-Masih Ibni Maryam, padahal mereka tidak diperintahkan melainkan untuk menyembah Tuhan Yang Maha Esa, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Maha suci Allah dari apa Yang mereka sekutukan”. (At-Taubah: 31).
Mendengar ayat itu, Adiy bin Hatim radliyallahu ‘anhu yang sa’at itu masih beragama nasrani, dengan kalung salib di lehernya, ia berkata : “Ya Rasulullah, sesungguhnya kami tidak menyembah mereka”.
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya :
أَلَيْسُوا يَحُلُّونَ مَا حَرَمُ اللهِ فَتُحِلُّونَهُ وَيُحْرَمُونَ مَا أَحَلَّ اللهُ فَتَحْرِمُونَهُ ؟ قَالَ: بَلَى، قَالَ: فَتْلُكَ عَبَّآ دتهم
“Bukankah mereka menghalalkan apa yang Allah haramkan, kemudian kalian menghalalkannya. Dan mereka mengharamkan apa yang Allah halalkan, kemudian kalian mengharamkannya ?!” Ia menjawab, “Ya benar.” Maka beliau bersabda lagi, “Itulah bentuk ibadah kepada mereka.” (H.R Tirmidzi).
Syeikh Abdurahman bin Hasan Rahimahulah berkata :
“Di dalam hadits tersebut terdapat dalil bahwa menta’ati ulama dalam hal maksiat kepada Allah berarti beribadah kepada mereka dari selain Allah, dan termasuk syirik akbar yang tidak diampuni oleh Allah subhanahu wata’ala”.
Begitulah hakekatnya orang-orang nasrani menuhankan rahib-rahibnya. Mereka selalu mengikuti apapun yang dikatakan oleh rahib- rahibnya. Padahal sesungguhnya yang berhak membuat syari’at hanyalah Allah Subhaanahu Wa Ta’ala. Allah lah yang menentukan halal dan haram. Tidak seorangpun berwenang menghalalkan kecuali yang sudah dihalalkan Allah, juga tidak berwenang mengharamkan kecuali apa yang sudah diharamkan Allah Ta’ala.
Sungguh ironis sa’at ini sebagian kaum muslimin bertaklid kepada ulama yang mereka puja- puja dan idolakan. Mereka tidak memperdulikan dalil, meskipun ulama yang diikutinya menyalahi dalil.
Mereka yang menuhankan manusia berkata :
- Pokoknya kita ikuti saja tradisi di jam'iyyah kita. Kita amalkan amaliyah kelompok kita. Tidak mungkin amalan di jam'iyyah kita bid'ah. Rosulullah kalau masih hidup pasti merekomendasi kelompok kita.
- Pokoknya kita ikuti saja guru-guru kita, guru kita bukan orang-orang bodoh, kiai kita tidak mungkin salah, ustadz kita tentu faham permasalahan agama. Mengikuti mereka pasti masuk surga.
Begitulah perkata’an mereka.
Bagi mereka, kiai, ajengan, ustadz dan habibnya adalah tuhan yang pasti benar tidak mungkin salah, mereka selalu ikuti apapun yang dikatakan guru-gurunya.
Maka keada’an mereka persis seperti orang-orang nasrani yang disebutkan Rasulullah _shallallahu ‘alaihi wasallam_ yang menuhankan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah Ta’ala.
Al-Imam Ibnul Qoyyim _rahimahullâhu_ berkata :
" إن الله سبحانه إذا أراد أن يُهلك أعداءه ، ويمحقهم ؛ قيّض لهم الأسباب التي يستوجبون بها هلاكهم ومحقهم ، ومِن أعظمها : مبالغتهم في أذى أوليائه !".
"Sesungguhnya Allah _Subhânahu_ jika menghendaki untuk membinasakan dan menghancurkan musuh-musuh-Nya, maka Ia tetapkan bagi mereka faktor-faktor penyebabnya yang akan mengantarkan mereka kepada kebinasaan dan kehancuran tersebut. Diantara faktor terbesar tersebut adalah : ketika mereka sudah BERLEBIHAN DI DALAM MENGGANGGU WALI² ALLAH (yaitu para ulama yang shalih).
(Zâ∂บℓ Mα'â∂_ III/199)
Syaikh Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimin _rahimahullah_ berkata,
“Arbâb adalah jama’ dari rabb, artinya: Pengatur dan Pemilik. (Bentuk) pengaturan (Allâh) ada dua macam: pengaturan yang berkaitan dengan taqdir dan pengaturan yang berkaitan dengan syari’at. Barangsiapa mentaati Ulama’ dalam menyelisihi perintah atau keputusan Allâh dan Rasul-Nya, maka dia telah menjadikan mereka sebagai tuhan selain Allâh dengan penilaian pengaturan yang berkaitan dengan syari’at, karena dia menilai mereka sebagai para pembuat syari’at, dan menilai pembuatan syari’at itu sebagai syari’at yang diamalkan”. [al-Qaulul Mufîd ‘ala Kitâbit Tauhîd, 2/101]
Adi bin Hatim _Radhiyallahu anhu_ berkisah sebagai berikut:
عَنْ عَدِيِّ بْنِ حَاتِمٍ قَالَ أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِي عُنُقِي صَلِيبٌ مِنْ ذَهَبٍ فَقَالَ يَا عَدِيُّ اطْرَحْ عَنْكَ هَذَا الْوَثَنَ وَسَمِعْتُهُ يَقْرَأُ فِي سُورَةِ بَرَاءَةَ ((اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ)) قَالَ أَمَا إِنَّهُمْ لَمْ يَكُونُوا يَعْبُدُونَهُمْ وَلَكِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا أَحَلُّوا لَهُمْ شَيْئًا اسْتَحَلُّوهُ وَإِذَا حَرَّمُوا عَلَيْهِمْ شَيْئًا حَرَّمُوهُ
Dari ‘Adi bin Hatim, dia berkata, “Aku mendatangi Nabi [], sedangkan pada leherku ada (kalung) salib yang terbuat dari emas. Maka beliau bersabda, ‘Hai ‘Adi, buanglah berhala itu darimu!” Dan aku mendengar beliau membaca (ayat al-Qur’an) dalam surat Barâ’ah (at-Taubah, yang artinya), “Mereka (orang-orang Yahudi dan Nashrani) menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allâh”, beliau bersabda, ‘Sesungguhnya mereka itu (para pengikut) tidaklah beribadah kepada mereka (orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka). Akan tetapi jika mereka (orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka) menghalalkan sesuatu untuk mereka, merekapun menganggap halal. Jika mereka (orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka) mengharamkan sesuatu untuk mereka, merekapun menganggap haram”. [HR. Tirmidzi, no: 3095)
Islam telah membebaskan manusia dari penghambaan atas manusia dan makhluk lainnya. Melalui konsep tauhid, manusia secara penuh menjadi makhluk merdeka, yang tidak perlu bergantung pada apapun dan siapapun, kecuali kepada Allah SWT. Tidak ada Tuhan selain Allah, sebuah inti akidah yang seharusnya tertanam kuat di dalam hati setiap muslim. Namun, kini krisis akidah di kalangan umat terus bergulir. Tanpa terasa terbukti kian parah: manusia semakin menuhankan manusia.
Semoga bermanfaat. Amiin.
أبو حسن

Allah mensifati dirinya; BERSEMAYAM

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى (طه: 5)
“Yang Maha Penyayang di atas ‘Arsy (singgasana) berada.” (QS. Toha: 5)
ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ
“Kemudian Dia berada di atas ‘Arsy (singgasana).”
*FAWAID:*
1. Istiwa’ adalah salah satu sifat Allah yang telah Allah Ta’ala tetapkan untuk diriNya
2. Wajibnya beriman bahwa Allah itu bersemayam (istiwa').
3. Tidak boleh mengingkari sifat istiwa', sebab Allah sendiri yang telah bergirman demikian.
4. Allah bersemayam (istiwa') dengan segala keagungan dan kemuliaanNya, tidak butuh kepada makhlukNya. Tidak butuh kepada 'Arsy singgasanaNya dan KursiNya.
5. ‘Arsy adalah makhluk Allah yang tertinggi, lebih tinggi dari suga Firdaus, lebih tinggi dari tujuh petala langit, sidratul muntaha, baitul makmur dan seluruh galaxy bintang.
6. Dalil bahwa Allah maha tinggi di atas segala makhlukNya.
7. Arsy adalah makhluk Allah paling besar. Kadar ukuran besarnya hanya Allah yang mengetahuinya. Semua makhlukNya tidak mampu memperinci ukurannya.
8. Dalil bahwa Allah maha besar dari semua makhlukNya.
9. Larangan melakukan TAHRIF (تخريف), yaitu merubah nash dari segi lafazh atau maknanya. Yaitu menyimpangkan lafazh "istiwa" dari zhahirnya tanpa disertai dalil. Menjadi "istaula", atau "qohharo" atau makna lain tanpa dalil.
10. Larangan melakukan TAKWIL terhadap istiwa'nya Allah. Mereka takwilkan makna "bersemayam" dengan "menguasai" Karena mereka meyakini: tidak mungkin Allah bersemayam di atas 'ArsyNya, tidak mungkin Allah di langit. Mustahil itu. Mana mungkin Allah diwadahi Arsy makhluknya yang kecil ? Masa, Allah lebih kecil dari 'Arsy?. Begitu pikiran mereka. Sehingga mereka menyelewengkan makna "istiwa'" kepada makna "istaula" agar cocok dengan akal mereka. Karena memang pekerjaan tukang Takwil itu manakala sekiranya ada sifat Allah yang tidak masuk di akal maka mereka langsung mentakwilnya ke makna lain. Biasanya ke makna majas.
11. Larangan melakukan TAMTSIL (تمثيل) dan TASYBIH (تشبيه). Yaitu menetapkan sesuatu serupa dengan sesuatu yang lainnya. Menyamakan bersemayamnya Allah dengan bersemayamnya raja yang sedang duduk di atas singgasananya. Na'udzu billah. Maha suci Allah dari permisalan seperti ini.
12. Larangan TAKYIF (تكيف ). Yaitu menjabarkan tata cara atau sifat istiwa'nya Allah, alias bertanya² secara detail BAGAIMANA sih cara Allah bersemayam. Apakah dengan cara duduk, berdiri, berbaring, bersandar. Subhanallah. Karena nabi sendiri dan para sahabat nabi tidak pernah mempertanyakan seperti ini. Dan merinci bagaimana- bagaimana cara istiwa'nya adalah bentuk kurang ajar kepada Allah. Dan termasuk bid'ah dalam aqidah.
13. Larangan melakukan TA'THIL (تعطيل), yaitu mengingkari apa yang wajib ditetapkan untuk Allah dari asma’ dan sifat-Nya. Sebagian orang mengingkari bersemayamnya Allah. Mereka meyakini bahwa Allah tidak bersemayam tapi menguasai, karena alasannya takut mempersamakan Allah dengan raja yang duduk di atas singgasananya. Padahal: makhluk mana yang pernah bersemayam di atas 'ArsyNya?
14. Sifat bersemayam (istiwa')nya Allah adalah ma'ruf, diimani oleh seluruh ulama' salaf, beriman kepada "istiwa'nya Allah di atas 'Arsy" adalah wajib, bertanya² dengan bertélé² tentang kaifiyat (bagaimana) istiwa'Nya adalah bid'ah.
Imam Malik pernah mengusir orang Ahlul Kalam yang bertanya takyif mengenai bagaimana ISTIWA' (bersemayamnya) Allah. Surah Toha ayat 5;
الرَّحْمَنُ عَلَى العَرْشِ اسْتَوَى
Maka beliau berkata :
الإستواء معلوم ، والكيف مجهول ،والإيمان به واجب ،والسؤال عنه بدع
"(Bagaimana) istiwa' /bersemayamnya sudah jelas, menTakyif bagaimana istiwa'nya tidak diterangkan, mengimaninya WAJIB, menanya2 tentang bagaimana caranya adalah bid'ah" (kitab Muwatho', imam Malik)
Semoga bermanfaat. Amiin.
أبو حسن

Ahlul Bid'ah diusir Nabi

*AHLUL BID'AH DIUSIR OLEH NABI*
Dari Abu Wail, dari ‘Abdullah, Nabi [] bersabda,
أَنَا فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ ، لَيُرْفَعَنَّ إِلَىَّ رِجَالٌ مِنْكُمْ حَتَّى إِذَا أَهْوَيْتُ لأُنَاوِلَهُمُ اخْتُلِجُوا دُونِى فَأَقُولُ أَىْ رَبِّ أَصْحَابِى . يَقُولُ لاَ تَدْرِى مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ
“Aku akan mendahului kalian di al haudh (telaga). Dinampakkan di hadapanku beberapa orang di antara kalian. Ketika aku akan mengambilkan (minuman) untuk mereka dari al haudh, mereka dijauhkan dariku. Aku lantas berkata, ‘Wahai Rabbku, ini adalah umatku.’ Lalu Allah berfirman, ‘Engkau sebenarnya tidak mengetahui bid’ah yang mereka buat sesudahmu.’ ” (HR. Bukhari, no. 7049)
Dalam riwayat lain dikatakan,
إِنَّهُمْ مِنِّى . فَيُقَالُ إِنَّكَ لاَ تَدْرِى مَا بَدَّلُوا بَعْدَكَ فَأَقُولُ سُحْقًا سُحْقًا لِمَنْ بَدَّلَ بَعْدِى
“(Wahai Rabbku), mereka betul-betul pengikutku. Lalu Allah berfirman, ‘Sebenarnya engkau tidak mengetahui bahwa mereka telah mengganti ajaranmu setelahmu.” Kemudian aku (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) mengatakan, “Celaka, celaka bagi orang yang telah mengganti ajaranku sesudahku.” (HR. Bukhari, no. 7051)
Siapakah mereka?
Sebagaimana disampaikan oleh Imam Nawawi rahimahullah, para ulama berselisih pendapat dalam menafsirkan mereka yang DITOLAK dari telaga Nabi [].
*Pendapat pertama:* Yang dimaksud adalah orang munafik dan orang yang murtad.
*Pendapat kedua:* Yang dimaksud adalah orang yang masuk Islam di zaman Nabi [] lantas murtad sepeninggal Nabi.
*Pendapat ketiga:* Yang dimaksud, mereka adalah ahli maksiat dan pelaku dosa besar yang mati masih dalam keadaan bertauhid. Begitu pula termasuk di sini adalah pelaku bid’ah yang kebid’ahan yang dilakukan tidak mengeluarkan dari Islam.
Imam Al-Hafizh Abu ‘Amr bin ‘Abdul Barr mengatakan,
“Setiap orang yang membuat perkara baru dalam agama, merekalah yang DIUSIR dari telaga Nabi _shallallahu ‘alaihi wa sallam_ seperti Khawarij, Rafidhah (Syi’ah), dan pelaku bid’ah lainnya. Begitu pula orang yang berbuat zalim dan terlaknat lantaran melakukan dosa besar. Semua yang disebutkan tadi dikhawatirkan terancam akan dijauhkan dari telaga Nabi []. Wallahu a’lam.”
(Syarh Shahih Muslim, 3: 122)
Hal itu akan sangat mengerikan bagi yang menyadari bahwa berbicara menyangkut Nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wa sallam, apalagi berani mengklaim bahwa “Rasulullah sangat ridho terhadap berdirinya suatu aliran yang dia dirikan. Sungguh sangat lancang ketika seseorang membuat sebuah jam'iyah organisasi agama kemudian berkata "Aku didatangi rasulullah dan beliau berkata 'sungguh aku ridho dengan jam'iyyah mu". Bukankah rasulullah bersabda;
مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ
Dari al-Mughirah Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Aku mendengar Rasûlullâh [] bersabda, "Sesungguhnya berdusta atasku tidak seperti berdusta atas orang yang lain. Barangsiapa berdusta atasku dengan sengaja, maka hendaklah dia mengambil tempat tinggalnya di neraka”. [HR. Al-Bukhâri, no. 1229]
Berdusta atas nama Nabi [] sama dengan berdusta dalam syari’at dan dampaknya menimpa seluruh umat. Oleh karena itu, dosanya lebih besar dan hukumannya lebih berat.
Dalam hadits lain, Nabi [] menegaskan:
لَا تَكْذِبُوا عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ فَلْيَلِجِ النَّارَ
"Janganlah kamu berdusta atasku, karena sesungguhnya barangsiapa berdusta atasku, maka silahkan dia masuk ke neraka. [HR. Al-Bukhâri, no. 106 dan Muslim, no. 1].
Semoga bermanfaat. Amiin.

NAMIMAH

*Bahaya Adu Domba*
Yaitu; perkataan dan perbuatan yang menyebabkan permusuhan antara dua orang. Si C datang ke A bahwa B berkata begini. Lalu si C juga datang ke B bahwa A juga berkata begini. Lalu gara- gara perbuatan si C tersebut A dan B bermusuhan.
جاء رجل لخالد بن الوليد "رضي الله عنه"، فقال له: ان فلانا شتمك، فقال: "تلك صحيفته فليملأها بماشاء"
Seorang laki-laki menghampiri Khalid bin Walid ra kemudian berkata: “Si Fulan sudah mencacimu!”. Khalid menjawab: “Itu adalah lembaran amalnya sendiri, terserah dia untuk mengisinya dengan apapun...!”
قال رجل لوهب بن منبه: إن فلانا شتمك! قال: "أما وجد الشيطان رسولا غيرك ؟!" [البداية و النهاية ج 9 ص: 305]
Seorang laki-laki pernah melapor kepada Wahab bin Munabbih :
"Sesungguhnya Fulan telah mencaci engkau !"
Wahab bin Munabbih menjawab :
"Kelihatannya setan tidak menemukan kurir selain dirimu!"
قال أحدهم لرجل: فلان شتمك فقال: "هو رماني بسهم ولم يصبني فلماذا حملت السهم وغرسته في قلبي؟"
Ada seseorang berkata kepada pemuda ; "si Fulan telah mencacimu" maka pemuda tersebut menjawab: "dia memanahku dengan panah dan tidak mengenaiku, lalu mengapa engkau membawakan anak panah dan kau tancapkan di hatiku?" [Siyar A'lami Nubala]
جاء رجل إلى علي بن الحسين فقال له: إن فلانًا قد آذاك، ووقع فيك. قال: "إن كان ما قال فيّ حقًا، فغفر الله لي، وإن كان ما قال فيَّ باطلاً، فغفَر الله له."
Seorang laki-laki menghampiri Ali bin Husain _rahimahullah_ kemudian berkata: “Sungguh si Fulan sudah menjelek-jelekkan dan merendahkanmu!” Beliau menjawab: “Kalau apa yang dia katakan tentangku itu benar, semoga Allah swt mengampuniku. Dan jika apa yang dikatakannya tidak benar, semoga Allah swt mengampuni dirinya…”
قال أحدهم لرجل: فلان شتمك فقال: "هو رماني بسهم ولم يصبني فلماذا حملت السهم وغرسته في قلبي؟".
Ada yang berkata kepada seseorang: “Si Fulan mencacimu!” Dia menjawab: “Dia telah memanahku dengan satu anak panah tapi meleset, tapi mengapa malah kamu yang menancapkannya ke dalam hatiku?”
جاء رجل بنميمةٍ إلى أحد الصالحين فقال له : "جئتني بثلاث جِنايات ؛ باعدتَ بيني وبين أخي وشغلتَ قلبي الخالي وأفسدتَ مكان نفسك في نفسي!"‏‎.
Ada seseorang yang memprovokasi (namimah) orang shalih dan dijawab oleh orang shalih itu: “Kamu sudah mendatangkan tiga kejahatan kepadaku:
1. menjauhkan saudaraku dariku,
2. kau usik hatiku yang kosong (dari kebencian) dan
3.kau rusak posisi dirimu di dalam hatiku!”
جاء رجل إلى الشافعي فقال له فلان يذكرك بسوء فأجابه: "إذا صدقت فأنت نمام وإذا كذبت فأنت فاسق" فخجل وانصرف.
Seorang laki-laki mendatangi Imam Syafi’i rahimahullah kemudian berkata: “Si Fulan sudah menyebut-nyebut dirimu dengan kejelekan!” Imam Syafi’i pun menjawab: “Kalau kamu jujur maka kamu adalah nammam (pengadu domba/ provokator) dan apabila kamu bohong maka kamu fasiq!”.
حفظنا الله واياكم من القيل والقال...
Semoga Allah swt menjaga kita dari perkataan yang belum jelas kebenarannya dan dari perbuatan namimah…
Semoga kita terhindar dari sifat Namimah.
Ucapan baik ;
الخير كالماء يجب تكراره ولو كان معروفاً عند الناس، فالقلوب تتأثر بتكرار الشر عليها، وذكر الخير يَغسل شرها ويُليّن قسوتها
"Kebaikan itu ibarat air yg mengalir terus menerus. Maka wajib di ulang ulang walaupun manusia sudah tahu. Hati manusia terpengaruh dgn keburukan yg datang terus menerus. Maka menebarkan kebaikan2 akan menghapus keburukan tsb dan menjinakkan kekerasan hati nya"
_________